Walau begitu, Fiana tak patah semangat. Kendati hanya guru honorer
dan per bulan diberikan upah Rp 200 ribu, Fiana tetap semangat
menularkan ilmu kepada murid-muridnya.
"Untuk tahun ini, honor yang saya terima hampir satu tahun terlambat.
Katanya karena sistem dana BOS online, entah bagian mana yang
menyebabkan honor saya itu tak terbayarkan. Jika honor sudah terlambat,
saya tinggal menunggu saja, tak bisa berbuat banyak," ujar Fiana yang
sebelumnya juga menjadi guru honorer di Kabupaten Biak Numfor.
Pantang Patah Semangat
Total murid yang diajarkan Fiana setiap harinya berjumlah 40 murid, sebanyak 16 siswa di antaranya duduk di bangku SMP. Namun, sekalipun ada bangunan SMP dan muridnya, pihak Dinas Pendidikan Kota Jayapura tak menyediakan guru SMP.
Pantang Patah Semangat
Total murid yang diajarkan Fiana setiap harinya berjumlah 40 murid, sebanyak 16 siswa di antaranya duduk di bangku SMP. Namun, sekalipun ada bangunan SMP dan muridnya, pihak Dinas Pendidikan Kota Jayapura tak menyediakan guru SMP.
"Saya juga mengajar di SMP. Ini saya lakukan karena beban sebagai
seorang pendidik yang tak tega melihat murid tak ada gurunya. Jika
mengajar di SMP jangan mengharapkan honor tambahan, sebab ini dilakukan
secara sukarela dan memang tak ada bayarannya," tutur Fiana.
Ia mengaku tak pernah menuntut apa pun dalam pekerjaan ini. Dia hanya ingin anak-anak Papua, terlebih yang berada di perbatasan RI-PNG mendapatkan ilmu untuk keberlanjutan masa depannya.
"Paling tidak, pemerintah tak menahan honor mengajar saya setiap bulannya," Fiana berharap.
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa mengakui adanya kekurangan guru di daerah perbatasan atau daerah terpencil lainnya. Ke depan akan ada guru garis depan untuk sejumlah lokasi di Kota Jayapura.
"Tahun ini sudah kami upayakan dan semoga bisa cepat terealisasi," kata Mudiyasa.
Ia mengaku tak pernah menuntut apa pun dalam pekerjaan ini. Dia hanya ingin anak-anak Papua, terlebih yang berada di perbatasan RI-PNG mendapatkan ilmu untuk keberlanjutan masa depannya.
"Paling tidak, pemerintah tak menahan honor mengajar saya setiap bulannya," Fiana berharap.
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa mengakui adanya kekurangan guru di daerah perbatasan atau daerah terpencil lainnya. Ke depan akan ada guru garis depan untuk sejumlah lokasi di Kota Jayapura.
"Tahun ini sudah kami upayakan dan semoga bisa cepat terealisasi," kata Mudiyasa.
Mudiyasa tak membantah banyak guru yang meninggalkan tempat tugas,
terlebih di wilayah perbatasan. Menurut dia, salah satu penyebabnya
lantaran minimnya fasilitas rumah guru.
"Walaupun ada, kondisi rumah guru tak lagi bisa ditempati. Kami terus mengupayakan setiap tahunnya ada perbaikan rumah guru. Proses perbaikan itu juga tak dapat dilakukan secara bersama-sama," tutur dia.
"Walaupun ada, kondisi rumah guru tak lagi bisa ditempati. Kami terus mengupayakan setiap tahunnya ada perbaikan rumah guru. Proses perbaikan itu juga tak dapat dilakukan secara bersama-sama," tutur dia.
Kondisi itulah, Mudiyasa menambahkan, menyebabkan banyak guru honorer
yang bertugas di pedalaman atau di perbatasan, memilih pulang ke
rumahnya di pusat Kota Jayapura. "(Padahal) Jaraknya dari tempat mengajar sekitar 50 kilometer."
0 Response to "Perjuangan Guru Honorer di Papua"
Posting Komentar